Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Fatwa’


Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Soal:
Beragam bahaya menyerang umat Islam dari berbagai sisi. Apakah bahaya yang terbesar bagi umat? Dan bagaimana jalan menolak bahaya tersebut?

Jawab:
Bahaya terbesar yang dihadapi oleh kaum muslimin adalah jauhnya mereka dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan menggantinya dengan undang-undang buatan manusia serta beragam isme yang menyimpang. (lebih…)

Read Full Post »


(Disusun oleh Al Ustadz Abu Karimah Asykari bin Jamal Al Bugisy)

Bagi kalangan aktivis pergerakan Islam, nasyid menjadi alternatif dari “cara bermusik”. Mereka berkukuh bahwa selama tidak mengandung hal-hal yang dilarang dalam syariat, hal itu diperbolehkan bahkan bisa menjadi sarana “dakwah”. Mereka seakan lupa, nasyid mereka hampir tak ada bedanya dengan lagu kecuali pada syair. Syairnya pun -meski kadang berbahasa Arab- bahkan kerap mengandung kesyirikan dan kebid’ahan. (lebih…)

Read Full Post »


Oleh: Fadlilatu As Syaikh Al’Allamah Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Bazz

Soal:
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Aku adalah seorang pemuda berusia 21 tahun. Semenjak usiaku 8 tahun, aku telah diuji dengan perbuatan liwath (homoseks). Hal itu terjadi karena ayahku disibukkan dengan urusannya sehingga lalai memberikan pendidikan yang baik kepadaku.

Dan keadaanku sekarang, aku menjalani kehidupan yang penuh derita karena perbuatan liwath tersebut. Sekarang aku menyesali perbuatan itu, hingga rasa penyesalanku sampai pada tingkatan aku memikirkan untuk melakukan bunuh diri. Wal ‘iyaadzubillah. (lebih…)

Read Full Post »


Oleh: Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri

Pertanyaan:
Setelah menerima dakwah, saya berlaku kasar kepada istri saya. Saya baru memiliki ilmu yang sedikit dan berusaha mengamalkannya. Saya memaksa istri saya untuk melakukan perkara-perkara yang belum siap untuk dia lakukan. Sebagai tambahan, saya terjerumus kepada perkara dosa yang menyebabkan imannya turun dan perasaan istri kepada saya pun menurun. Ini menyebabkan imannya jatuh, dia semakin ragu dan takut kepada ilmu. (lebih…)

Read Full Post »


Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Berkata Al Imam An Nawawi di dalam kitabnya yang mulia Riyadhus Shalihin:

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَا فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟! فَيَقُولُ بَلَى كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيْهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيْهِ
(lebih…)

Read Full Post »


Penulis: Ummu ‘Abdillâh Al-Wâdi’iyyah hafizhahallâh

Berkata Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah (9/320):

“Telah bercerita kepada kami ‘Ali, ia berkata telah berbicara kepada kami Ibnu ‘Aliyah dari Humaid dari Anas, ia berkata: “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada di tempat sebagian istrinya. Lalu salah satu dari Ummul Mukminin mengirim piring yang berisi makanan, maka istri Nabi yang sedang berada di rumahnya memukul tangan pelayan itu, sehingga jatuhlah piring tersebut dan pecah.

Kemudian Nabi memunguti pecahan piring dan makanan, sambil mengatakan: ((غَارَتْ أُمُّكُمْ)) “Ibu kalian cemburu.” Lalu beliau menahan pelayan tersebut sampai beliau menggantinya dengan piring milik istri yang beliau sedang di rumahnya. Lalu beliau memberikan piring yang utuh kepada istri yang piringnya pecah, dan menahan piring yang sudah pecah di rumah istri yang telah memecahkan piring tersebut.”” (lebih…)

Read Full Post »


Oleh: Ummu Salamah As Salafiyyah

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا)

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An Nisa’ : 4)

– APAKAH DISUNNAHKAN POLIGAMI DALAM ISLAM ? (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 618 pengikut lainnya.