• Beranda
  • Profil dan Buku Tamu

Ulama Sunnah

Kumpulan Biografi, Artikel dan Fatwa Ulama Ahlussunnah

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Semangat Salaf Dalam Thalabul Ilmi (Bag I)
Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 03 – Selesai) »

Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 2)

Februari 22, 2011 oleh Admin Ulama Sunnah

Oleh: Asy Syaikh Abdurrahman Al Adeni -hafizhahullah-

Dan sebagaimana diketahui pula bahwa agama Allah Ta’ala ini sampai kepada kita dengan begitu mudah dan gampang seakan-akan kita berhadapan dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan taufiq, pertolongan dan keutamaan Allah Ta’ala. Yaitu dengan Allah Ta’ala menyediakan bagi kita sebab-sebab dengan adanya perjuangan yang besar yang dilakukan oleh ulama salaf ini. Para pendahulu kita yang shalih dari kalangan shahabat dan tabi’in serta yang datang setelah mereka dari kalangan imam pembawa petunjuk dan penghilang kegelapan telah melakukan perjuangan dan pengorbanan.

Para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam wa radhiyallahu ‘anhum- sangat besar semangatnya untuk meraih ilmu yang bermanfaat ini, dalam keadaan mereka itu sangat fakir dan tidak berkecukupan. Diantara mereka ada yang jika tersibukkan dia tetap berusaha mencari pengganti untuk hadir ke hadapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu- bersama tetangganya seorang anshar. ‘Umar hadir di suatu hari lalu kembali dan menyampaikan kepada tentangganya apa yang dia dengar, dan sang anshary hadir di suatu hari lalu kembali dan menyampaikan kepada ‘Umar apa yang dia dengar berupa wahyu, hikmah dan sunnah. Dan ini adalah satu dari sekian banyak contoh (dari kalangan para shahabat).

(Diantaranya) apa yang terukir dari perawi umat islam dan penghafalnya shahabat yaitu Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-. Dia telah meriwayatkan bagi umat ini jumlah yang besar dan kumpulan yang banyak dari hadits-hadits Rasulillah – shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Yang mana jumlah yang besar dari hadits ini telah membuat murka musuh-musuh islam dari kalangan orang zindiq, atheis, zionis dan pengekor mereka. Maka mereka mencela kejujurannya dan mereka menciptakan keraguan terhadapa riwayat-riwayat ini sembari mengatakan “kenapa dia bersendiri dengan jumlah yang besar ini dari para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang lain. Dan mereka tidak tahu bahwa perbendaharaan yang besar ini yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- untuk umat ini terjadi setelah adanya taufiq dari Allah Ta’ala sebagai buah dari kesungguhan, kegigihannya, pengorbanannya dan kesabarannya menahan lapar, kesabarannya menahan sakit yang dilakukan oleh Abu Hurairah. Kemudian dia –dengan keutamaan dari Allah Ta’ala- mampu meriwayatkan jumlah yang besar ini untuk umat ini. Dalam Ash-Shahih disebutkan dari hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;
يَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ وَيَقُولُونَ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ لَا يُحَدِّثُونَ مِثْلَ أَحَادِيثِهِ وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ عَمَلُ أَمْوَالِهِمْ وَكُنْتُ امْرَأً مِسْكِينًا أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي فَأَحْضُرُ حِينَ يَغِيبُونَ وَأَعِي حِينَ يَنْسَوْنَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا لَنْ يَبْسُطَ أَحَدٌ مِنْكُمْ ثَوْبَهُ حَتَّى أَقْضِيَ مَقَالَتِي هَذِهِ ثُمَّ يَجْمَعَهُ إِلَى صَدْرِهِ فَيَنْسَى مِنْ مَقَالَتِي شَيْئًا أَبَدًا فَبَسَطْتُ نَمِرَةً لَيْسَ عَلَيَّ ثَوْبٌ غَيْرُهَا حَتَّى قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَالَتَهُ ثُمَّ جَمَعْتُهَا إِلَى صَدْرِي فَوَالَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ مَا نَسِيتُ مِنْ مَقَالَتِهِ تِلْكَ إِلَى يَوْمِي هَذَا وَاللَّهِ لَوْلَا آيَتَانِ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُكُمْ شَيْئًا أَبَدًا

“Mereka berkata: “Sesungguhnya Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits, dan di sisi Allah ada janji.” Mereka berkata: “Kenapa muhajirun dan anshar tidak menyampaikan hadits seperti hadits-haditsnya.” Sesungguhnya para saudaraku yang muhajirin tersibukkan dengan kesepakatan dagang di pasar-pasar, dan saudaraku yang anshar tersibukkan dengan pekerjaan harta (pertanian, peternakan) mereka. Dan adalaah orang yang miskin, aku terus mendamingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan tenang dengan kondisi perutku, maka aku hadir di saat orang-orang pada absen, aku menghafal di saat mereka terlupa. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada suatu hari: “Tidak seorangpun dari kalian yang menghamparkan pakaiannya sampai aku menyelesaikan ucapanku ini kemudian dia melipatnya ke dadanya terlupa akan ucapanku selamanya meski sedikit.” Maka aku menghamparkan pakaianku yang bergari dan tidak ada yang melekat padaku kecuali itu sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan sabdanya, kemudian aku melipatnya ke dadaku. Maka demi Dzat yang mengutus beliau dengan al-haq tidaklah aku lupa akan sabda beliau itu sampai hari ini. Demi Allah kalau bukan karena dua ayat dalam kitabullah tidaklah akau menyampaikan hadits kepada kalian meski sedikit selamanya.”
إِنّ الّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآ أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيّنَاتِ وَالْهُدَىَ مِن بَعْدِ مَا بَيّنّاهُ لِلنّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـَئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاّعِنُونَ إِلاّ الّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَبَيّنُواْ فَأُوْلَـئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التّوّابُ الرّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami terangkan kepada manusia dalam Al-Kitab mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah, dan mereka dilaknat oleh para pelaknat. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menjelaskan, maka mereka itulah yang Aku terima taubat mereka dan adalah Aku Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 159-160)

Kesungguhan, kegigihan, semangat dan pengorbanan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, semangat menuntut ilmu itu –wahai saudaraku di jalan Allah Ta’ala-, akan mengantarkan kita kepada hasil yang besar yang kita harapkan.

Dalam Ash-Shahih diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah dia berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar dari engkau hadits yang banyak namun aku melupakannya”. Beliau bersabda: “Hamparkan selendangmu!” Maka aku menghamparkannya. Lalu beliau menciduk dengan kedua tangan beliau kemudian bersabda: “Genggamlah!” Maka aku menggenggamnya maka tidaklah aku lupa sesuatu setelahnya.”

Semangat yang kita butuhkan mengisyaratkan pada penuntut ilmu agar kita memilki kemauan, semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat, selalu dan terus-menerus maka akan datang hasilnya.

Abu Hurairah tidak sebatas hanya memiliki keterusan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterusan bersama guru itu bisa jadi terjadi selama puluhan atau ratusan kali, namun jika bisa terkumpul antara keterusan bersama guru, kesabaran dan semangat seorang penuntut ilmu akan meraih kebaikan yang banyak bi idznillah.

Dan Abu Hurairah berkumpul padanya dua pekara keterusan dan bersabar bersama guru dan semangat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi akan semangatnya mencari ilmu. Dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling bahagia dengan syafa’at engkau pada hari kiamat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku telah menyangka wahai Abu Hurairah, tiada seorangpun yang bertanya akan hadits ini sebelum engkau, karena apa yang aku lihat akan semaangatmu mendapatkan hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat orang yang berkata: “Tiada ilah yang benar kecuali Allah” secar ikhlas dari kalbunya atau dari dirinya.”

Demikian terjadi pada banyak shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wa radhiyallahu ‘anhum. Bersungguh-sungguh, semangat dan berkorban.

Berikut terjemah Al-Qur’an dan tinta dari tinta-tinta umat ini yaitu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akannya:
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah dalamkanlah pemahamannya dalam agama ini dan ajarkan padanya tafsir.”

Yaitu dengan Allah Ta’ala menambahkan kepadanya ilmu dan hikmah, dan dia tidaklah hanya bersandar kepada do’a nabawy ini lalu duduk di rumahnya. Bahkan dia semangat dan bersungguh-sungguh dan begadang (demi ilmu) sampai dia menjadi ulama besar islam, mendalam dalam fiqih, tafsir, aqidah, bahasa dan ilmu nasab, serta tentang hari-hari arab dan selan itu.

Dari mana Ibnu ‘Abbas mendapatkan ilmu yang luas ini? Terwujud padanya do’a nabawiyah, Allah mengabulkan do’a nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Ibnu ‘Abbas juga Allah menolongnya untuk mengejar ilmu dan semangat meraihnya, memanfaatkan waktu dan kesempatan sedang dia berada di zaman yang penuh menuntut ilmu yaitu zaman pembesar shahabat. Ada Abu Bakar orang terbaik umat ini setelah nabinya, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay, Mu’adz dan mereka-mereka para ulama besar.

Dan hal itu tidak memalingkan Ibnu ‘Abbas dari menuntut ilmu sebagaimana terkadang terjadi pada sebagian kita. Ketike melihat adanya ulama besar dan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan manfaat dengan mereka pada umat, negara dan masyarakat, lalu dia minder dan meremehkan dirinya -dan pantas baginya untuk meremehkan dirinya- namun peremehan dirinya ini bukn pada tempatnya. Dia meremehkan dirinya kemudian menyebabkan dirinya tidak berusaha meraih ilmu dan berkata: Alhamdulillah.

Wahai saudaraku, ulama boleh jadi sekarang hidup, namun bisa jadi besok meninggal, dan harus ada orang yang menggantikan mereka pada umat ini dalam ilmunya. Jika penghamba dunia semangat untuk mengadakan orang yang mengganti posisi mereka dalam semua bidang, dalam ketentaraan, penerbangan, kedokteran, dan teknologi sampai tingkatan sihir sekalipun diperhatikan, sebagaimana dalam hadits yang shahih dalam kisah anak dengan penyihir dan raja.

Lalu bagaimana dengan ilmu syari’at, jika tidak ada perhatian dari umat, maka ia akan hilang dan habis tidak akan tersisa lagi silsilah sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abbas di dalam hadits yang masyhur di sisi kalian tidaklah bersandar dan menyerah, namun dia melihat dengan pandangan yang jauh ke depan. Ad-Darimy meriwayatkan, dan Ahmad dalam Al-Fadha’il, dan Ibnu Sa’d dan selain mereka dari hadits Ibnu ‘Abbas dia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat aku berkata kepada seorang pemuda anshar: “Marilah wahai fulan, kita menuntut ilmu. Sesungguhnya para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup”. Dia menjawab: “Sungguh aneh engkau wahai Ibnu ‘Abbas, engkau lihat manusia butuh kepadamu sementara di antara mereka ada shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Maka aku tinggalkan dia dan aku mengejar menuntut ilmu, jika ada hadits yang sampai kepadaku dari seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia telah mendegarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku datangi dia dan aku duduk di depan pintu rumahnya lalu angin menrepa wajahku. Lalu shahabat tersebut berkata kepadaku: “Wahai anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang membuatmu datang kemari? Apa kebutuhanmu?” Aku katakan: “Suatu hadits sampai kepadaku yang engkau riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka dia berkata: “Tidakkah engkau utus seseorang kepadaku?” Maka aku katakan: “Aku yang lebih pantas untuk mendatangimu.” Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata: “Maka orang anshar tadi masih dlam kondisinya sehingga manusia berkumpul kepadaku, makaa dia berkata: “Pemuda ini lebih berakal dari pada aku.”

Kenapa demikian? Karena para pembesar dari shahabat (yang anshary tadi beralasan dengan keberadaan mereka), mereka itu meninggal.
{ إِنّكَ مَيّتٌ وَإِنّهُمْ مّيّتُونَ }

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mengalami kematian dan mereka juga akan mati.” (Az-Zumar: 30)

Kematian mesti datang kepada setiap jiwa, berapapun umur seseorang, mesti dia akan sampai pada kematian. Kesungguhan ini pada diri Ibnu ‘Abbas pada dirinya bersama para muridnya. Demikian pula yang kita contoh dari ulama dan masyayikh kita, mereka bersungguh-sungguh pada diri mereka dan mereka semangat untuk mendorong murid-murid mereka. Demikian pula Ahlus sunnah di setiap tempat berada dalam koridor nasehat ini untuk diri mereka, saudara mereka dan murid mereka.
(Bersambung ke bagian 3)

Sumber:

http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/06/10/semangat-salaf-ilmu-02/

Rate this:

Share this:

  • StumbleUpon
  • Digg
  • Reddit
  • Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Print

Like this:

Suka
One blogger likes this post.
  • ainaqolbii

Ditulis dalam Ilmu | Tinggalkan sebuah Komentar

  • 10 Posting Terakhir

    • Hukum Memakai Kaos Bola Bertuliskan Nama Orang Kafir
    • Biografi Asy Syaikh Abdullah Aqil rahimahullah
    • Kasih Sayang Rasullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam terhadap Hewan
    • Tanggung Jawab Kedua Orang Tua serta Para Pengajar
    • Usamah bin Ladin Mujahid di Jalan Syaithan
    • Imam Ahmad bin Hanbal, Teladan dalam Semangat dan Kesabaran
    • Hukum Sutra Sintetis
    • Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 03 – Selesai)
    • Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 2)
    • Semangat Salaf Dalam Thalabul Ilmi (Bag I)
  • Kalamullah

    "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28)
  • Sabda Nabi

    “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani)
  • Nasehat Salaf

    "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka." (Umar bin Abdul Aziz)
  • Kategori

    • Adab dan Akhlak (77)
    • Anak Muslim (15)
    • Aqidah (216)
    • Fiqh Ibadah (38)
    • Ilmu (26)
    • Info (1)
    • Kisah dan Biografi (4)
    • Manhaj (96)
    • Muamalah (23)
    • Muslimah (38)
    • Nasehat (1)
  • Terbanyak Dibaca

    • Hukum Memakai Kaos Bola Bertuliskan Nama Orang Kafir
    • Hukum Berpuasa di Hari Jum'at
    • Usamah bin Ladin Mujahid di Jalan Syaithan
    • Antara Ucapan "Syukron" (Terimakasih) dan Jazakallahu Khairan
    • Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
  • Statistika Blog

    Web Counter
    unique visitor sejak 04/FEB/08.
  • Masukkan alamat email Anda di sini.

    Bergabunglah dengan 179 pengikut lainnya.

  • Versi WP

    • 770,125 hits sejak 4 Februari 2008
  • Banner

    Kumpulan Fatwa, Artikel dan Biografi Ulama Ahlussunnah

    Apakah Demokrasi dan Pemilu adalah Solusi? Temukan Jawabannya di sini

  • Arsip

    • Februari 2012 (1)
    • September 2011 (1)
    • Mei 2011 (4)
    • Maret 2011 (1)
    • Februari 2011 (4)
    • Januari 2011 (1)
    • November 2010 (1)
    • Oktober 2010 (1)
    • Juli 2010 (1)
    • Juni 2010 (3)
    • Februari 2010 (2)
    • Januari 2010 (3)
    • November 2009 (3)
    • Oktober 2009 (4)
    • Agustus 2009 (1)
    • Juli 2009 (12)
    • Juni 2009 (33)
    • Mei 2009 (9)
    • April 2009 (4)
    • Maret 2009 (13)
    • Februari 2009 (13)
    • Januari 2009 (14)
    • Desember 2008 (5)
    • November 2008 (19)
    • Oktober 2008 (1)
    • September 2008 (8)
    • Agustus 2008 (9)
    • Juli 2008 (15)
    • Juni 2008 (45)
    • Mei 2008 (7)
    • April 2008 (28)
    • Maret 2008 (47)
    • Februari 2008 (151)
  • Free Domain co.nr
  • Status Admin

  • Maktabah

    • Maktabah Masjid Nabawi
    • Maktabah Ruhul Islam
    • Maktabah Sahab
    • Maktabah Syamilah
    • Maktabah Waqfiyah
    • Manuskrip
  • Ulama Sunnah

    • Al Lajnah Ad Daimah
    • Asy Syaih Ahmad Abul 'Ainain
    • Asy Syaikh Abdul Karim Khudair
    • Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad
    • Asy Syaikh Abdullah Al Jibrin
    • Asy Syaikh Abdurrazzaq Afifi
    • Asy Syaikh Abdurrazzaq Al Badr
    • Asy Syaikh Abdussalam Barjis
    • Asy Syaikh Ahmad An Najmi
    • Asy Syaikh Al Albani
    • Asy Syaikh Al Bura’i
    • Asy Syaikh Al Ubaikan
    • Asy Syaikh Al Ubailan
    • Asy Syaikh Falah Mandakar
    • Asy Syaikh Ibn Baaz
    • Asy Syaikh Ibn Utsaimin
    • Asy Syaikh Muhammad Al Imam
    • Asy Syaikh Muhammad Ali Adam Al Ithiofi
    • Asy Syaikh Muhammad Ali Firkuz
    • Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami
    • Asy Syaikh Muqbil bin Hadi
    • Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi
    • Asy Syaikh Salim Al Ajmi
    • Asy Syaikh Shalih Al Fauzan
    • Asy Syaikh Shalih Al Luhaidan
    • Asy Syaikh Shalih As Sadlan
    • Asy Syaikh Shalih As Suhaimi
    • Asy Syaikh Sulthan Al 'Ied
    • Asy Syaikh Taqiyuddin Al Hilali
    • Ulama Yaman

Blog pada WordPress.com.

Theme: MistyLook by Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 179 pengikut lainnya.

Powered by WordPress.com
loading Batal
Post was not sent - check your email addresses!
Email check failed, please try again
Sorry, your blog cannot share posts by email.