• Beranda
  • Indeks
  • Indeks 2
  • Profil dan Buku Tamu
  • Kirim Pertanyaan

Ulama Sunnah

Kumpulan Biografi, Artikel dan Fatwa Aqidah, Ibadah, Tauhid, Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Muslimah, Muamalah, Akhlak, Doa, Zikir, Nikah, Jihad, Hubungan Seks, Jilbab, Cadar, Sedekah, Bid'ah, Sufi, Sufisme, Aliran dalam Islam, dari para Ulama Ahlus Sunnah wal jama'ah Salafy, Salafi, Salafiyun, Bin Baaz, Albani, Utsaimin, Muqbil, Rabi' bin Hadi, Shalih Fauzan, Ubaid Al Jabiri, Abdul Muhsin Al Abbad, Ahmad An Najmi, Shalih Luhaidan, Shalih Alu Syaikh, Ibnul Qayyim, Al Bukhari, Muslim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Muhammad bin Abdul Wahhab

Feeds:
Tulisan
Komentar

Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Ketiga Belas: Mencintai Kebaikan bagi Orang Lain

3 Juli 09 oleh Abu Umar

Oleh: Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه
[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu’anhu –pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya, apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Al Iman/12/Fath], Muslim di dalam [Al Iman/45/Abdul Baqi])

Penjelasan:

“Tidak beriman”, maksudnya adalah keimanan yang sempurna. Sabdanya, “Sampai ia mencintai bagi dirinya”, baik itu perkara agama maupun perkara dunia, karena hal itu adalah konsekuensi persaudaraan seiman, yaitu engkau mencintai bagi saudaramu, apa-apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri.

Di antara faedah yang dapat dipetik dari hadits ini adalah:

1. Kadar keimanan itu bertingkat-tingkat. Di antaranya ada yang sempurna, ada pula yang tidak demikian. Dan ini merupakan pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa iman dapat bertambah dan dapat berkurang.

2. Anjuran untuk mencintai kebaikan bagi kaum muslimin, berdasarkan sabdanya, “Sampai ia mencintai bagi saudaranya, apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.”

3. Peringatan dari mencintai kaum muslimin apa-apa yang tidak ia cintai bagi dirinya sendiri. Karena dengan hal itu, akan berkuranglah keimanannya, sampai-sampai Rasulullah menafikan keimanan (yang sempurna) dari orang yang berbuat demikian. Hal ini adalah di antara perkara yang menunjukkan pentingnya seseorang mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.

4. Memperkuat jalinan ukhuwah (persaudaraan) di antara kaum muslimin.

5. Orang yang tersifati dengan sifat ini, tidak mungkin ia berbuat aniaya terhadap orang mukmin yang lainnya, baik pada hartanya, kehormatan, ataupun pada keluarganya. Dengan hal itu, tidak mungkin ia senang untuk berbuat aniaya terhadap orang lain dalam perkara-perkara tersebut di atas.

6. Umat Islam wajib bersatu padu. Faedah ini dipetik, karena kesempurnaan iman dapat dicapai dengan cara mencintai bagi saudaranya, apa-apa yang ia cintai bagi dirinya-sendiri.

7. Menggunakan cara-cara yang lembut dalam bertutur kata. Dalam sabdanya: (bagi saudaranya) kalau mau, beliau bisa saja mengatakan, “Tidak beriman salah seorang dari kalian, sampai ia mencintai bagi mukmin lainnya, apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” Akan tetapi beliau mengatakan, “Bagi saudaranya”, sebagai kelemahlembutan kepada seseorang untuk mencintai mukmin lainnya, apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari Syarah Arbain An Nawawiyah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, penerjemah Abu Abdillah Salim, Penerbit Pustaka Ar Rayyan. Silakan dicopy dengan mencantumkan URL http: //ulamasunnah.wordpress.com)

Ditulis dalam Hadits | No Comments Yet

  • 10 Posting Terakhir

    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Lima: Keutamaan Berdzikir
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Empat: Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Empat: Haramnya Kezhaliman
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Tiga: Sarana-Sarana Kebaikan
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Dua: Jalan Menuju Surga
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Satu: Keimanan dan Istiqamah
    • Terorisme dan Faham Khawarij
    • Download Rekaman Dauroh bersama Para Ulama
    • Nasehat Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keduapuluh: Rasa Malu dan Keimanan
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kesembilan Belas: Pengawasan Allah dan Penjagaannya
  • Kalamullah

    "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28)
  • Sabda Nabi

    “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani)
  • Nasehat Salaf

    "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka." (Umar bin Abdul Aziz)
  • Shortcut

    Daftar Isi
    Ketentuan Penyalinan
  • Kategori

  • Terbanyak Dibaca

    • Indeks
    • Tata Cara Menyembelih Qurban
    • Biografi Al-Imam Malik Bin Anas
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Lima: Keutamaan Berdzikir
    • Kumpulan Artikel dan Fatwa seputar Qurban dan Bulan Dzulhijjah
  • Statistika Blog

    Web Counter
    unique visitor sejak 04/FEB/08.
  • Versi WP

    • 304,389 hits sejak 4 Februari 2008
  • Banner

    Kumpulan Fatwa, Artikel dan Biografi Ulama Ahlussunnah

    Apakah Demokrasi dan Pemilu adalah Solusi? Temukan Jawabannya di sini

  • Free Domain co.nr
  • Status Admin

Blog pada WordPress.com.

Tema: Mistylook oleh Sadish