• Beranda
  • Profil dan Buku Tamu

Ulama Sunnah

Kumpulan Biografi, Artikel dan Fatwa Ulama Ahlussunnah

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Cara Mudah Memahami Ushuluts Tsalatsah 4 – Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalilnya
Biografi Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di »

Cara Mudah Memahami Al Ushuluts Tsalatsah 5 (TAMAT) – Mengenal Nabi

Mei 8, 2009 oleh Admin Ulama Sunnah

Oleh: Asy Syaikh Muhammad At Thayyib Al Anshari

Soal: Apakah pokok yang ketiga (yang wajib dipelajari)?

Jawab: Mengenal Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthallib, bin Hasyim. Dan Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, dan bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, putera Nabi Ibrahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita seutama-utamanya shalawat dan salam.

Soal: Berapa umur Nabi?

Jawab: Beliau berumur 63 tahun, di antaranya 40 tahun sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan 23 tahun sebagai nabi dan rasul.

Beliau diangkat sebagai nabi dengan “Iqra”(surah Al-’Alaq: 1-5), dan diangkat sebagai rasul dengan surah Al-Mudatstsir.

Tempat asal beliau adalah Makkah.

Soal: Dengan apa beliau diutus Allah?

Jawab: Beliau diutus Allah untuk menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Hai orang yang berberselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-mu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (Al Mudatstsir: 1-7)

Soal: Apa pengertian (قُمْ فَأَنْذِرْ) “Sampaikanlah peringatan”?

Jawab: Pengertian: “Sampaikanlah peringatan”, ialah berikan peringatan untuk menjauhi syirik dan serulah kepada tauhid.

Soal: Apa pengertian(وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ) “Agungkanlah Tuhanmu, dan (وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ) “Sucikanlah pakaianmu.”?

Jawab: Pengertiannya adalah Agungkanlah Ia dengan bertauhid (beribadah hanya kepada-Nya semata), dan “Sucikanlah pakaianmu”, maksudnya: Sucikanlah segala amalmu dari perbuatan syirik.

Soal: Apa pengertian (وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ) dan “Ar Rujzu”maka tinggalkanlah

Jawab: Pengertiannya adalah “Tinggalkanlah berhala-berhala itu”, dan “Hajruha”yaitu meninggalkannya beserta orang-orangnya dan berlepas diri darinya serta orang-orang yang memujanya.

Soal: Berapa lama beliau melakukannya?

Jawab: Beliaupun melaksanakan perintah ini selama sepuluh tahun, (mengajak kepada tauhid). Setelah sepuluh tahun itu beliau di mi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.

Soal: Apa hijrah itu?

Jawab: Hijrah ialah: Pindah dari negeri syirik ke negeri Islam. Dan dari lingkungan bid’ah ke lingkungan sunnah.

Soal: Apa hukumnya?

Jawab: Hukum hijrah: bahwa Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam berlaku dari negeri syirik ke negeri Islam. Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai terbitnya matahari dari arah barat (hari kiamat).

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيراً. إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلا يَهْتَدُونَ سَبِيلاً. فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوّاً غَفُوراً

” Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[*], (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kalian ini?.” mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?.” orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, Mudah-mudahan Allah memaafkannya. dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (An Nisa’: 97-99)

[*] yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Makkah yang tidak mau hijrah bersama nabi sedangkan mereka sanggup. mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.

Dan Firman Allah Ta’ala:

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ

Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, Sesungguhnya bumi-Ku luas, Maka sembahlah Aku saja. (Al Ankabut: 56)

Soal: Apa yang menjadi sebab turunya ke dua ayat tersebut?

Jawab: Sebab turunnya ayat yang pertama: Bahwasannya orang-orang dari penduduk Makkah telah masuk Islam dan mereka tertinggal tidak ikut hijrah bersama Rasulullah, dan sebagaian mereka mendapatkan ujian dan ikut bersama orang musyrik berperang pada perang Badar. Maka Allah enggan menerima udzur mereka maka mereka dibalasi jahanam.

Adapun ayat yang kedua, sebab turunnya, bahwa ”Ayat ini adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman dan Allah memerintahkan untuk berhijrah.”

Soal: Apa dalil dari hadits yang menunjukkan tetap berlakunya hijrah?

Jawab: Sabda Nabi:

” لاَ تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَلاَ تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتىَّ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا “

“Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat.”

Soal: Apa yang diperintahkan kepada Nabi setelah tinggal di Madinah?

Jawab: Disyariatkan kepada beliau syariat Islam yang lainnya berupa zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan syariat-syariat Islam lainnya.

Soal: Berapa lama beliau menjalaninya?

Jawab: Beliau-pun melaksanakan untuk menyampaikan hal ini selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari. Dan demikian inilah agama beliau tidak ada satu kebaikanpun kecuali beliau telah menunjukkannya kepada ummat, dan tidak ada satu kejelekanpun kecuali beliau telah memperingatkan untuk dijauhi.

Soal: Kebaikan apa yang ditunjukkan kepada ummat dan kejelekan apa yang beliau peringatkan?

Jawab: Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, sedangkan keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi adalah syirik dan segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah.

Soal: Apakah beliau diutus Allah khusus untuk bangsa tertentu atau untuk seluruh manusia?

Jawab: Allah mengutus beliau untuk manusia seluruhnya dan Allah wajibkan atas seluruh jin dan manusia untuk mentaati beliau

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً

Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepada kalian semua,”(Al A’raf: 158)

Dan Firman Allah Ta’ala:

“Dan (Ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu (Muhammad) yang mendengarkan Al Quran”, (Al Ahqaf: 29)

Soal: Apakah melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya atau Allah menyempurnakan setelah beliau meninggal?

Jawab: Ya, Allah menyempurnakan agama melalui beliau (bahkan sebelum beliau meninggal) sehingga tidak membutuhkan sedikitpun tambahan untuk agama ini sepeninggal beliau.

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً

.”.Pada hari ini(*), telah Aku sempurnakan untuk kalian agama-kalian dan Aku lengkapkan kepada kalian ni’mat-Ku serta Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.”(Al-Maaidah: 3)

(*) adalah hari Jum’at ketika wukuf di Arafah, pada waktu Haji Wada.

Soal: Apakah dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah wafat?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka-pun akan mati (pula). Kemudian, sesungguhnya kamu nanti pada hari kiamat berbantah- bantahan di hadapan Tuhanmu.” (Az-Zumar: 30-31).

Soal: Apakah manusia bakal dibangkitkan setelah matinya?

Jawab: Ya, setelah manusia mati, mereka akan dibangkitkan kembali.

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

“Dari bumi (tanah) Itulah kami menjadikan kamu dan kepadanya kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (Thaa-haa: 55).

Dan Firman Allah Ta’ala:

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتاً* ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجاً

“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, Kemudian dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.” (Nuh: 17-18).

Soal: Apa yang dialami setelah manusia dibangkitkan?

Jawab: Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan di hisab dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka.

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik (surga).” (An-Najm: 31).

Soal: Bagaimana hukum orang yang tidak mempercayai hari kebangkitan?

Jawab: Barangsiapa yang tidak mengimani hari kebangkitan, maka dia adalah kafir.

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan: ‘Tidaklah demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah.” (At-Taghaabun: 7)

Soal: Apa fungsi diutusnya Para Rasul?

Jawab: Allah telah mengutus semua rasul sebagai penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan.

Soal: Mana Dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

رُسُلاً مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

“(Kami telah mengutus) rasul-rasul menjadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan supaya tiada lagi suatu alasan bagi manusia membantah Allah setelah (diutusnya) para rasul itu.” (An-Nisa’: 165)

Soal: Siapakah rasul yang pertama? Dan siapa rasul terakhir?

Jawab: Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam, Dan rasul terkahir adalah Nabi Muhammad, serta beliaulah penutup para nabi.

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِه

Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya..”(An-Nisaa: 163).

Soal: Apa dakwah yang diemban oleh setiap rasul kepada umatnya?

Jawab: Dakwah para Rasul adalah dakwah tauhid yaitu memerintahkan ummatnya untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan melarang beribadah kepada thagut (sesembahan selain Allah).

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan): ’Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thagut itu…” (An-Nahl: 36).

Soal: Apa itu Thagut?

Jawab: Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala, telah menjelaskan pengertian thagut dengan mengatakan. “Thagut, ialah setiap yang diperlakukan manusia secara melampui batas (dari yang ditentukan oleh Allah), berupa disembah, atau dikuti atau ditaati.”

Soal: Berapa jumlah thagut?

Jawab: Thagut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima:

1) Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah.

2) Orang yang disembah, dalam keadaan dia rela.

3) Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.

4) Orang yang mengaku tahu yang ghaib, dan

5) Orang yang berhukum dengan hukum selain yang diturunkan oleh Allah.

Soal: Apa dalilnya?

Jawab: Firman Allah Ta’ala:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu. an Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 256)

Ingkar kepada semua thagut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat “Laa Ilaaha Ilallah.”

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

” رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعُمُوْدُهُ اَلصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ اَلْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ “

“Pokok agama ini adalah Islam (syahadat), dan tiangnya adalah shalat, sedang puncak bangunannya adalah jihad fi sabilillah.” (Hadits Shahih riwayat Ath-Thabarani dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, dan riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami Ash-Shahih, kitab Al-Imaan, bab 8).

والله أعـلــم

Hanya Allah-lah Yang Maha tahu.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad kepada keluarga dan para sahabatnya.

Selesai – Walhamdulillah

(Dinukil untuk blog ulamasunnah dari ‘Cara Mudah Memahamahi Ushulus Tsalatsah, diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifa’i Al Maghatani dari kitab “TASHIL AL-USHUL ATS-TSALATSAH”karya Asy Syaikh Muhammad At Thayyib Al Anshari, Diteliti dan ditahrij hadits-haditsnya oleh Shalih Bin Abdillah Al ‘Ashimy. Sumber: www.darussalaf.or.id)

Rate this:

Share this:

  • StumbleUpon
  • Digg
  • Reddit
  • Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Print

Like this:

Suka
Be the first to like this post.

Ditulis dalam Aqidah | Tinggalkan sebuah Komentar

  • 10 Posting Terakhir

    • Hukum Memakai Kaos Bola Bertuliskan Nama Orang Kafir
    • Biografi Asy Syaikh Abdullah Aqil rahimahullah
    • Kasih Sayang Rasullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam terhadap Hewan
    • Tanggung Jawab Kedua Orang Tua serta Para Pengajar
    • Usamah bin Ladin Mujahid di Jalan Syaithan
    • Imam Ahmad bin Hanbal, Teladan dalam Semangat dan Kesabaran
    • Hukum Sutra Sintetis
    • Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 03 – Selesai)
    • Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 2)
    • Semangat Salaf Dalam Thalabul Ilmi (Bag I)
  • Kalamullah

    "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28)
  • Sabda Nabi

    “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani)
  • Nasehat Salaf

    "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka." (Umar bin Abdul Aziz)
  • Kategori

    • Adab dan Akhlak (77)
    • Anak Muslim (15)
    • Aqidah (216)
    • Fiqh Ibadah (38)
    • Ilmu (26)
    • Info (1)
    • Kisah dan Biografi (4)
    • Manhaj (96)
    • Muamalah (23)
    • Muslimah (38)
    • Nasehat (1)
  • Terbanyak Dibaca

    • Hukum Memakai Kaos Bola Bertuliskan Nama Orang Kafir
    • Hukum Berpuasa di Hari Jum'at
    • Usamah bin Ladin Mujahid di Jalan Syaithan
    • Antara Ucapan "Syukron" (Terimakasih) dan Jazakallahu Khairan
    • Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
  • Statistika Blog

    Web Counter
    unique visitor sejak 04/FEB/08.
  • Masukkan alamat email Anda di sini.

    Bergabunglah dengan 179 pengikut lainnya.

  • Versi WP

    • 770,052 hits sejak 4 Februari 2008
  • Banner

    Kumpulan Fatwa, Artikel dan Biografi Ulama Ahlussunnah

    Apakah Demokrasi dan Pemilu adalah Solusi? Temukan Jawabannya di sini

  • Arsip

    • Februari 2012 (1)
    • September 2011 (1)
    • Mei 2011 (4)
    • Maret 2011 (1)
    • Februari 2011 (4)
    • Januari 2011 (1)
    • November 2010 (1)
    • Oktober 2010 (1)
    • Juli 2010 (1)
    • Juni 2010 (3)
    • Februari 2010 (2)
    • Januari 2010 (3)
    • November 2009 (3)
    • Oktober 2009 (4)
    • Agustus 2009 (1)
    • Juli 2009 (12)
    • Juni 2009 (33)
    • Mei 2009 (9)
    • April 2009 (4)
    • Maret 2009 (13)
    • Februari 2009 (13)
    • Januari 2009 (14)
    • Desember 2008 (5)
    • November 2008 (19)
    • Oktober 2008 (1)
    • September 2008 (8)
    • Agustus 2008 (9)
    • Juli 2008 (15)
    • Juni 2008 (45)
    • Mei 2008 (7)
    • April 2008 (28)
    • Maret 2008 (47)
    • Februari 2008 (151)
  • Free Domain co.nr
  • Status Admin

  • Maktabah

    • Maktabah Masjid Nabawi
    • Maktabah Ruhul Islam
    • Maktabah Sahab
    • Maktabah Syamilah
    • Maktabah Waqfiyah
    • Manuskrip
  • Ulama Sunnah

    • Al Lajnah Ad Daimah
    • Asy Syaih Ahmad Abul 'Ainain
    • Asy Syaikh Abdul Karim Khudair
    • Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad
    • Asy Syaikh Abdullah Al Jibrin
    • Asy Syaikh Abdurrazzaq Afifi
    • Asy Syaikh Abdurrazzaq Al Badr
    • Asy Syaikh Abdussalam Barjis
    • Asy Syaikh Ahmad An Najmi
    • Asy Syaikh Al Albani
    • Asy Syaikh Al Bura’i
    • Asy Syaikh Al Ubaikan
    • Asy Syaikh Al Ubailan
    • Asy Syaikh Falah Mandakar
    • Asy Syaikh Ibn Baaz
    • Asy Syaikh Ibn Utsaimin
    • Asy Syaikh Muhammad Al Imam
    • Asy Syaikh Muhammad Ali Adam Al Ithiofi
    • Asy Syaikh Muhammad Ali Firkuz
    • Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami
    • Asy Syaikh Muqbil bin Hadi
    • Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi
    • Asy Syaikh Salim Al Ajmi
    • Asy Syaikh Shalih Al Fauzan
    • Asy Syaikh Shalih Al Luhaidan
    • Asy Syaikh Shalih As Sadlan
    • Asy Syaikh Shalih As Suhaimi
    • Asy Syaikh Sulthan Al 'Ied
    • Asy Syaikh Taqiyuddin Al Hilali
    • Ulama Yaman

Blog pada WordPress.com.

Theme: MistyLook by Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 179 pengikut lainnya.

Powered by WordPress.com
loading Batal
Post was not sent - check your email addresses!
Email check failed, please try again
Sorry, your blog cannot share posts by email.