• Home
  • Indeks
  • Profil dan Buku Tamu
  • Indeks Artikel 2
  • Kirim Pertanyaan

Ulama Sunnah

Kumpulan Biografi, Artikel dan Fatwa Aqidah, Ibadah, Tauhid, Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Muslimah, Muamalah, Akhlak, Doa, Zikir, Nikah, Jihad, Hubungan Seks, Jilbab, Cadar, Sedekah, Bid'ah, Sufi, Sufisme, Aliran dalam Islam, dari para Ulama Ahlus Sunnah wal jama'ah Salafy, Salafi, Salafiyun, Bin Baaz, Albani, Utsaimin, Muqbil, Rabi' bin Hadi, Shalih Fauzan, Ubaid Al Jabiri, Abdul Muhsin Al Abbad, Ahmad An Najmi, Shalih Luhaidan, Shalih Alu Syaikh, Ibnul Qayyim, Al Bukhari, Muslim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Muhammad bin Abdul Wahhab

Feeds:
Tulisan
Komentar

Membongkar Ajaran Tasawuf: Rambu-Rambu Ibadah yang Benar

8 Juli 08 oleh Abu Umar

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Sesungguhnya ibadah yang Allah syariatkan dibangun di atas pondasi dan pokok yang kokoh dan baku. Dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Ibadah bersifat tauqifi [2] dan harus bersumber dari musyarri’ (Yang berhak menetapkan syari’at) yaitu Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا [هود: 112]
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas”. (Hud: 112)

ثُمَّ جَعَلْنَـاكَ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ اَّلذِيْنَ لاَ يَعْلَمُونَ[الجاثية: 18]
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa naf-su orang-orang yang tidak mengetahui “.(Al-Jatsiyah: 18)
Allah berfirman tentang nabi-Nya:
إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوْحَـى إِلَيَّ
[الأحقاف: 9]
“Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”.(Al Ahqaaf 9)

2. Ibadah harus dilakukan dalam keadaan ikhlas [3] karena Allah Ta’ala, suci dari pengaruh kesyirikan.
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً [الكهف: 110]
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhnamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepadanya”. (Al-Kahfi: 110)

Jika ibadah tercampur dengan sesuatu kesyirikan, maka ibadah itu tidak akan bernilai. Firman Allah Ta’ala :
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (Al-An’am: 88)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu: “Jika kamu memperse-kutukan Tuhan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Az-Zumar: 65-66)

3. Dalam ibadah hendaknya yang dijadikan panutan dan sumbernya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
[الأحزاب: 21]
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu”. (Al Ahzab 21)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
[الحشر: 7]
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan-lah”. (Al-Hasyr: 7)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

» مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ «[رواه مسلم]
“Siapa yang melaksanakan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (agama) kami maka dia tertolak” (Riwayat Muslim)
» مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ «[متفق عليه]
“Siapa yang mengada-ada dalam perkara (agama) kami yang bukan termasuk didalamnya maka dia tertolak”. (Muttafaq alaih)

» صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي «
[متفق عليه]
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (Muttafaq alaih)

» خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ «
[رواه مسلم]
“Ambillah kalian dariku manasik (haji) kalian” (riwayat Muslim)
Dan riwayat-riwayat lainnya.

4. Ibadah telah ditetapkan berdasarkan waktu dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Misalnya sholat. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الصَّلَـوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتـباً مَوْقُوتاً

[النساء: 103]
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang beriman”. (An Nisa 103)

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُوْمَـتٌ
[البقرة: 197]
“(Masa mengerjakan) ibadah haji itu beberapa bulan yang telah diketahui”. (Al-Baqarah: 197)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ[البقرة: 185]
“(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu”. (Al Baqarah 185)

5. Ibadah harus terlaksana berdasarkan cinta kepada Allah Ta’ala, merendahkan diri, takut dan harap kepada-Nya:
أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهُ
[الإسراء: 57]
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat kepada Allah dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti”. (Al-Isra’: 57)

Allah berfirman tentang para nabi:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَـشِعِيْنَ
[الأنبياء: 90]
“Sesungguhnya mereka senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan sentiasa berdoa kepada kami dengan penuh harapan serta takut dan mereka sentiasa khusyu’ kepada kami“. (Al-Anbiya: 90)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهَ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ  قُلْ أَطِيْعُوا اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَإِنْ تَوَلَّوا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَـــفِرِيْنَ[آل عمران: 31-32]
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Ali-Imran: 31-32)

Allat Ta’ala telah menyebutkan tanda-tanda cinta kepada-Nya dan hasilnya. Adapun tanda-tandanya adalah mengikuti Rasulullah, ta’at kepada Allah dan ta’at kepada Rasul-Nya. Sedangkan buahnya adalah mendapatkan cinta Allah Ta’ala, ampunan dosa dan dari rahmat dari-Nya.

6. Kewajiban ibadah tidak gugur bagi orang mukallaf (yang telah mendapatkan kewajiban), semenjak dia baligh dan berakal hingga kematiannya.

Allah Ta’ala berfirman :
وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
[آل عمران: 102]
“Janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali Imran: 102)
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيـنُ
[الحجر: 99]
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (ajal)”. ( Al-Hijr: 99).

Footnote :
2. Maksudnya adalah bahwa ibadah sudah ditentukan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Akal fikiran tidak memiliki andil dalam penetapannya
3. Ikhlash berarti beribadah hanya untuk Allah dan kepada Allah, tidak kepada selain-Nya, lawannya adalah syirik

(Dikutip dari tulisan Asy Syaikh Dr Sholeh Fauzan, judul asli حقيقة التصوف وموقف الصوفية
من أصول العبادة والدين, Edisi bahasa Indonesia Hakikat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap prinsip Ibadah dan Agama. Diterbikan oleh Depag Saudi Arabia.

URL Sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=296

Baca artikel terkait:

  • Cinta Tanah Air termasuk ke dalam Iman?

  • Janganlah Panggil Saudaramu Kafir!

  • Menggugat Demokrasi – Daftar Isi

  • Fatwa Ulama Zaman tentang Kafirnya Orang Mengaku Nabi

Ditulis dalam Aliran, Manhaj, Ulama - Artikel | yang berkaitan kesesatan ibnu arobi, kesesatan manunggaling kawula gusti, kesesatan sufi, kesesatan tasawuf | No Comments Yet

  • 10 Posting Terakhir

    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kelima Belas: Kedermawanan dan Diam
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keempat Belas: Kapan Darah Seorang Muslim Dihalalkan
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Ketiga Belas: Mencintai Kebaikan bagi Orang Lain
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keduabelas: Meninggalkan Apa-apa yang Tidak Berguna
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kesebelas: Hati-hati dan Meninggalkan Perkara-Perkara yang Meragukan
    • Syaikh Abdullah Shalfiq: Perjalananku ke Indonesia (4)
    • Syaikh Abdullah Shalfiq: Perjalananku ke Indonesia (3)
    • Syaikh Abdullah Shalfiq: Perjalananku ke Indonesia (2)
    • Syaikh Abdullah Shalfiq: Perjalananku ke Indonesia (1)
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kesepuluh: Doa dan Mengkonsumsi Barang yang Halal
  • Kalamullah

    "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28)
  • Sabda Nabi

    “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani)
  • Nasehat Salaf

    "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka." (Umar bin Abdul Aziz)
  • Shortcut

    Daftar Isi
    Ketentuan Penyalinan
  • Kategori

  • Terbanyak Dibaca

    • Menggugat Demokrasi - Daftar Isi
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kelima Belas: Kedermawanan dan Diam
    • Indeks
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kesebelas: Hati-hati dan Meninggalkan Perkara-Perkara yang Meragukan
    • Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keempat Belas: Kapan Darah Seorang Muslim Dihalalkan
  • Statistika Blog

    Web Counter
    unique visitor sejak 04/FEB/08.
  • Versi WP

    • 246,248 hits sejak 4 Februari 2008
  • Banner

    Kumpulan Fatwa, Artikel dan Biografi Ulama Ahlussunnah

    Apakah Demokrasi dan Pemilu adalah Solusi? Temukan Jawabannya di sini

  • Free Domain co.nr
  • Status Admin

Blog pada WordPress.com.

Tema: Mistylook oleh Sadish